Abdul Latif Khan: Belajar Tawakkal Dari Balik Wabah - Harian Amanah Medan

Breaking

Minggu, 22 Maret 2020

Abdul Latif Khan: Belajar Tawakkal Dari Balik Wabah



”Jika benar tawakkalmu, maka Allah akan memberimu rezeki seperti burung, dimana dia keluar dalam kondisi lapar, pulang dalam keadaan kenyang”, demikianlah sabda Nabi SAW terkait sikap tawakkal kita yang seharusnya kita bangun.

——-
Al Qur’an yang kita yakini sebagai Kitab suci, bahkan berisikan beberapa ayat yang sampi sekarang sulit untuk dapat kita pahami dengan rasio kita. Beberapa ayat yang merupakan rangkaian potongan huruf seperti alim lam mim, jelas kita sudah sepakat bahwa tidak ada kita yang dapat memahami maknanya. Namun kita tak dapat menyebutkannya sebagai bukan bagian dari Kitab suci.

Terdapat pula rangkaian beberapa ayat yang berisi cerita musykil, tak dapat diterima akal. Seperti kisah terbelah nya lautan menjadi jalan bagi Musa as dan ummatnya. Sepertinya itu hanya terjadi waktu itu saja. Setelahnya, jangankan lautan, sungai saja pun tak pernah kita lihat membelah sedemikian. Demikian juga kisah Ibrahim as yang dibakar hidup-hidup, jangankan kulitnya bajunya saja tidak terbakar. Kisah Maryam as yang melahirkan Isa as tanpa proses pembuahan normal, tanpa suami sama sekali.  Kisah Ayyub as yang mengalami sakit berkepanjangan yang sembuh sesaat setelah ia mengadukan keadaan sakitnya yang mulai mengganggu zikirnya. Semuanya adalah kisah-kisah mustahil yang faktual ada dalam Kitab suci. 
______
Beberapa kisah dimaksud memberi kita kode bahwa Tidak ada yang mustahil Bagi Allah. DIA dapat melakukan segalanya dengan kehendak NYA. Pesan lain yang kita dapatkan, jika pun kita sudah tak berdaya, sudah tak tahu apa yang harus kita lakukan. ALLAH mengingatkan kita bahwa titik ketidakberdayaan kita sangat hampir (berdekatan) dengan Maha Berdayanya ALLAH. Dan saat kita tak tahu, DIA Maha Tahu.

Di awali dengan IMAN pada NYA, maka direct line yang menghubungkan kita dengan NYA untuk akhirnya mendapatkan pertolongan NYA, adalah TAWAKKAL. Tahukah anda bahwa saat YUNUS as ditelan ikan besar. Bagaimana ia dapat hidup sedemikian lama dalam perut ikan itu? Dan bagaimana pula ia dapat keluar dalam keadaan selamat? TAWAKKAL. Allah mengingatkan kita jika saja ia tidak mengingat KU dengan melapalkan zikir itu, maka ia akan selama dalam perut ikan itu. Tahukah anda apa yang dia (as) baca?    ‏لا اله الا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
Perhatikanlah maknanya, semua bicara ketidakberdayaan makhluk, pengakuan atas kelemahannya. Keyakinan perlunya dia akan Allah.
____
Demikianlah sekarang, di samping semua ikhtiar yang sudah dan terus kita lakukan, agar wabah hilang dari kita. Sudah seharusnya kita menguatkan tawakkal. Siapapun kita harus bergeser ke ruang ketidakberdayaan kita. Ruang yang hanya di isi oleh mereka yang yakin Allah Maha Berkuasa, Maha Penyembuh, Maha penyayang, Maha Segalanya. Di ruang itulah dia datang sebagai hamba yang menyerah. Seperti penyerahan kekasih pada kekasihnya, penyerahan cinta, penyerahan pengorbanan. Seperti penyerahan diri budak pada Tuannya, penyerahan pengorbanan, penyerahan takut. Wujud yang paling utama diekspresikan melalui DOA dan SHALAT. Bukankah Nabi saw memperbanyak keduanya saat ia menyadari bahwa ia butuh hasil yang bukan dalam kuasa dirinya?
______
Saat kita tak dapat lagi melangkah ke Masjid, saat kita hanya mendengar azan dari kejauhan. Saat beginilah seharusnya, kita semakin berburu dekat pada Allah. Menyungkur sujud dan menangis, berdoa lirih pada Nya. Mengakui betapa berkuasanya DIA dia atas diri kita. DIA lah yang menggenggam jiwa kita. Dalam kondisi apapun, DIA lebih dekat dengan kita, lebih dekat dari urat leher kita sendiri.
Sudahlah, tak usah meratapi kesulitan langkah kita ke Masjid. Tapi marilah membangun kedekatan kita dengan NYA, seraya meminta agar DIA menjauhkan wabah ini dari kita. Lihatlah YUNUS as., telah merupakan perut ikan menjadi ruang ibadahnya, ruang munajatnya.

Marilah ajak anak dan istri kita untuk menjadikan rumah kita _ruang ibadah_ yang mendekatkan cinta dan pertolongan Allah pada kita semua.
__________
Abdul Latif Khan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar