Ini Kata Sayyid Quthb tentang Asiyah yang Lebih Memilih Iman - Harian Amanah Medan

Breaking

Selasa, 10 Maret 2020

Ini Kata Sayyid Quthb tentang Asiyah yang Lebih Memilih Iman

Iman adalah sebab manusia selamat dari siksa neraka. Karena itu, orang-orang beriman berusaha memegang teguh agama mereka, bahkan bila harus mengorbankan jiwa dan raga.

Tercatat dalam sejarah, wanita-wanita teladan juga memilih kematian ketimbang harus kafir, meski hidup di bawah kekuasaan yang zalim. Contoh nyata disebut dalam Al-Quran yaknj Asiyah, istri Fir'aun.

Allah berfirman, "Dan Allah menjadikan istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang mukmin, ketika ia berkata, 'Ya Tuhanku, dirikan untukku sebuah rumah di sisi-Mu, dalam surga. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan kaum yang zalim," (TQS at-Tahrim: 11)

Sayyid Quthb menjelaskan mengenai ayat di atas tentang Asiyah, "Lihatlah istri Fir'aun, badai kekafiran tidak menggoyahkannya juga menggoyahkan keimanannya sedikit pun. Ia hidup di istana Fir'aun, sendiri meraih keselamatan. Tatkala terbebas dari terali istana kufur Fir'aun, ia memohon kepada Tuhannya untuk mendirikan rumah baginya di surga.

Ia melepaskan diri dari hubungannya dengan Fir'aun dan perbuatan-perbuatan terkutuknya, karena rasa takut dan keimanannya kepada Allah. Asiyah adalah wanita paling dekat dengan Fir'aun, namun mampu selamat dari pengikutnya justru pada saat ia hidup di tengah-tengah mereka.

Munajat dan sikap Asiyah adalah teladan terindah kehidupan. Menjadi istri Fir'aun, salah satu raja paling berkuasa pada saat itu, adalah impian banyak orang. Dan kedudukannya sebagai ratu dalam sebuah istana yang megah adalah kenikmatan yang selalu didambakan wanita. Lagi-lagi indahnya, Asiyah lebih memilih keimanannya.

Pesona kenikmatan hidup tidak membuatnya berpaling. Justru sebaliknya, ia menganggap semua hal tersebut sebagai ujian dan musibah, yang membuatnya harus meminta perlindungan kepada Allah.

Asiyah adalah satu-satunya wanita yang berada di puncak sebuah kerajaan besar dan berkuasa. Jamaknya, wanita biasanya lebih mudah terpengaruh dan terintimidasi oleh penetrasi norma-norma masyarakat sekelilingnya. Dan luar biasanya, Asiyah lebih memilih sendirian, di tengah-tengah tekanan masyarakat, kekuasaan, raja dan kehidupan sosial, menengadah ke langit mengusung keimanannya.

Ia adalah teladan dalan pencapaian keberserahdirian kepada Allah di tengah-tengah pengaruh dan tekanan segala penjuru kehidupan. Oleh karena itu, ia patut terdengar di segala penjuru jagat. Dan para malaikat di langit ajan selalu membacanya dalan munajat-munajat," demikian Sayyid Quthb dalam Fii Zhilalil Quran.

Terkait Asiyah, Rasulullah Saw juga pernah bersabda, "Banyak laki-laki yang sempurna, dan tidak para wanita kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah, istri Fir'aun. Keutamaan Aisyah dibanding wanita-wanita lain seperti keutamaan bubur roti (tsarid) atas makanan-makanan lain" (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar