Mandat Kuat Masyumi Reborn - Harian Amanah Medan

Breaking

Jumat, 13 Maret 2020

Mandat Kuat Masyumi Reborn

Oleh Dr. Masri Sitanggang

Kelahiran kembali Masyumi adalah kebutuhan. Kalau PKI telah unjuk gigi, mengapa tidak dengan Masyumi. Inilah mandat kuat dari umat.

Sabtu, 7 Maret 2020, Aula Dewan Dakwah di Keramat Raya 45 penuh sesak. Banyak yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, melimpah sampai pelataran gedung .  Di barisan kursi depan tampak sejumlah tokoh nasional dan tokoh-tokoh sepuh. Di panggung depan terpampang layar lebar yang menayangkan biorama perjuangan Partai Islam Masyumi sejak lahir hingga bubarnya.  Di kiri kanan layar itu, serta sebahagian besar dinding ruangan, menempel wall banner dari tokoh tokoh Masyumi seperti KH. Hasyim Ashari, Ki Bagus Hadikusumo, Mohammad Natsir, Wahid Hayim, H. Agus Salim, Buya Hamka, Syafruddin Prawira Negara, Mohammad Roem, Burhanuddin Harahap, KH. Isya Ansyori dll.  Menariknya, setiap wall banner dari tokoh itu disertakan pula kutipan pesan perjuangannya. Suasana itu membawa setiap hadirin yang berusia sikitar 70 tahun pada kenangan masa kecil ketika Partai Islam Masyumi masih ada sekaligus menumbuhkan kerinduan akan hadirnya masa lalu itu. Bagi genarasi di bawahnya, atau malah genarasi melenial, suasana itu membangkitkan rasa ingin tahu tentang –sekaligus menumbuhkan semangat untuk mengikuti,  jejak perjuangan Masyumi.

“Umur kami mungkin tidak lama lagi, tapi kami tidak rela dipanggil Allah S.W.T ketika kami dan teman teman seangkatan kami yang pernah dididik oleh para tokoh Masyumi belum mewariskan ruh perjuangan Masyumi melalui jalur Politik formal... Kami membayangkan andaikan dulu Partai Masyumi tidak membubarkan diri karena dipaksa bubar, mungkin NKRI sudah menjadi negeri Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghaffur, semoga adik adik yang menggagas MasyumiReborn bisa meneruskan risalah ini dengan mengajak seluruh keluarga besar, anak cucu dan pecinta ideologi Masyumi secara ikhlas tanpa pamrih jabatan, tidak terburu-buru, sistematis dan istiqomah. Semoga Allah SWT merestui ijtihad ini demi NKRI yang tercinta”.

 Itu sebuah flyer berisi foto KH. A. Cholil Ridwan, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’I, Abdullah Hehamahua danTaufiq Ismail yang ditayangkan di layar lebar. Rangkaian kalimat yang menumpahkan kegelisahan hati para pejuang sepuh yang sadar tinggal menghitung hari untuk kembali pada  Sang Khaliq.

Hidmad sangat. Pandangan para hadirin tampak terpaku pada untaian kalimat di flyer itu. Tidak sedikit di antara mereka mengusap matanya karena haru berlinang air mata.

Ini memang acara “Silaturrahmi Keluarga, Anak Cucu dan Pecinta Masyumi”. Themanya,  Masyumi Reborn, Masyumi lahir kembali.  Tidak hanya dari propinsi-propinsi yang ada di pulau Jawa yang hadir , tetapi juga banyak dari luar. Tercatat misalnya, dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Nangro Aceh Darusalam, Bali, dan Kalimantan Selatan. Menariknya, acara silaturrahmi ini diikuti dari bergbagai lintas usia, dari usia senja 80-an tahun hingga kelompok yang disebut dengan melenial. 

Tidak kurang dari 20 orang tokoh –dari kalangan ulama, politisi, akademisi, budayawan dan kalangan pergerakan-- ditampilkan  di atas panggung, berbicara beberapa menit tentang Masyumi dan pandangannya terhadap Masyumi Reborn. Di antara tokoh-tokoh itu adalah : KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, Dr. Abdullah Hehamahua, Prof Dr Fuad Amsyari, Ridwan Saidi, Dr MS Kaban, Dr. Kamaluddin La Ode, Dr. Musni Umar, Drs. Lukman Hakim, Bachtiar Chamsah, Egy Sujana, Joko Edy, Sri Bintang Pamungkas  dan Chairul Anas “si robot pendeteksi kecurangan” yang mewakili kelompok melenial. Ada juga tokoh yang tidak bisa hadir karena berhalangan lalu menitipkan pesan tertulisnya untuk dibacakan. Di antara mereka adalah Dr. AM Saefuddin, Letjen (Purn) Syarwan Hamid dan Mohammad Siddik si Ketua Dewan Dakwah. Ada juga yang hadir tapi tidak sempat memberi pandangan, namun memberikan dukungan penuh, karena harus segera menghadiri acara lain seperti Ustadz Zaitun Rasmin.

Seperti hendak menjawab tantangan Dr. Masri Sitanggang, Ketua Panitia Persiapan Pendirian Partai Islam Ideologis (P-4II), semua pembicara yang tampil sepakat : perlu segera melahirkan kembali Masyumi. Dalam sambutannya Masri Sitanggang melaporkan bahwa selama empat bulan perjalanan P-4II, diperoleh kenyataan bahwa umat Islam mengelu-elukan lahirnya kembali Masyumi. Hampir Semua provinsi dan sebagian besar kabupaten kota telah memberikan dukungannya dan masing-masing membentuk komunitas.  Tetapi P-4II, kata Masri Sitanggang, tidak merasa puas sebelum menyelenggarakan pertemuan Silaturrahmi akbar antara Anak Cucu dan Pencinta Masyumi untuk mendengarkan pendapat mereka.

Tugas sudah kami jalankan, hasilnya sudah kami sampaikan.  Kini terpulang pada para ulama, apakah tugas ini dilanjutkan untuk melahikan kembali Masyumi atau dihentikan. Kalau para ulama dan tokoh umat memerintahkan berhenti, kami siap berhenti. Tetapi bila para ulama dan tokoh umat memerintahkan lanjut, kami pun siap melanjutkan. Kami patuh pada perintah ulama. Namun bila kami boleh berpesan kepada para ulama dan tokoh umat, maka pesan kami adalah : Kalau PKI sudah unjuk gigi, mengapa tidak dengan Masyumi ?”. Begitu Masri Sitanggang yang disambut pekik takbir dari para hadirin.

Pertemuan silaturrahmi di Aula Dewan Dakwah itu memiliki banyak arti penting, di antaranaya adalah :
Pertama. Ini merupakan mandat dari keluarga, anak cucu dan pecinta Masyumi kepada P-4II untuk melahirkan kembali Masyumi. Dengan demikian legalitas dan kinerja P-4II diakui oleh umat Islam secara luas –setidaknya oleh keluarga dan pecinta Masyumi. Dengan demikian pula, tidak ada lagi partai –selain yang dilahirkan P-4II, yang dapat mengklaim dirinya sebagai (penerus) “Masymi”. Apalagi ternyata pertemuan silaturrahmi ini disenggarakan di Dewan Dakwah, sebuah lembaga yang ketahui sebagai “pewaris” Masyumi. 

Kedua.Undangan yang disampikan secara terbuka di berabagai media menunjukkan bahwa kegiatan ini juga terbuka bagi siapa saja yang merasa anak cucu dan pecinta Masyumi untuk menyampaikan pokok pirannya seputar Masyumi Reborn. Dengan demikian, bila kelak di belakang hari ada pandangan miring terhadap, atau bahklan mempertanyakan,  kelahiran Masyumi maka itu tidak lagi pada tempatnya. Gugur dengan sendirinya.

Ketiga. Tampilnya sejumlah besar pembicara dari berbagai latar belakang disiplin  menunjukkan bahwa upaya melahirkan kembali Masyumi bukanlah kemauan orang per orang dengan alasan kepentingan kelompok. Tetapi adalah hasil proses pengamatan dan pengkajian memadai dari kalangan yang memiliki spectrum yang luas.  Ini sekaligus menepis anggapan bahwa kelahiran kembali Masyumi adalah akibat perpecahan di kalangan elit partai tertentu. Sebaliknya, kelahiran kembali Masyumi dinilai sebagai kebutuhan mendesak di tengah situasi politik yang tidak menentu dan cenderung tidak menguntungkan umat Islam.  Masyumi diharapkan dapat menjadi wadah pemersatu gerakan politik sekaligus gerakan dakwah umat Islam ke depan.

Keempat. Nama besar Masyumi ternyata masih melekat di hati umat dan masih dirindukan kehadirannya. Membludaknya peserta silatutrrahmi dan   antusiasme umat dengan membentuk komunitas di berbagai daerah serta  pokok-pokok pikiran yang terlontar dalam pertemuan yang dipandu oleh Dr. Ahmad Yani tersebut, membuktikan lekatnya Masyumi di hati ummat dan kerinduan akan kehadirannya kembali. Masyumi masih punya daya tarik yang sangat kuat.

Bola salju telah bergulir. Para tokoh gerakan,  ulama, politisi dan akademisi serta anak cucu dan pecinta Masyumi telah memberi mandat. Ketua Badan Penyelidik Usaha Pendirian Partai Islam Ideologis, KH Cholil Ridwan,  telah memberi petuah bahwa cuma ada dua partai dalam perspektif Islam : _Hizbullah_ dan _Hizbussyaithan._  Panitia pun telah pula bekerja keras menyiapkan segala perangkat. Kini tinggal menungu waktu yang tepat untuk memberi maklumat : wahai para politisi musafir, pulanglah, Masyumi telah lahir !

Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Ketua Panitia Persiapan Pendirian Partai Islam Ideologis (P-4II).
#MasyumiReborn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar