Sejarah Penyebutan Hari Jumat - Harian Amanah Medan

Breaking

Kamis, 05 Maret 2020

Sejarah Penyebutan Hari Jumat


JAKARTA – Islam memiliki hari istimewa atau hari yang lebih baik daripada hari lainnya yaitu Jumat. Karena itu, dengan membaca beberapa doa pada malam Jumat akan membuat hari-hari kita selanjutnya lebih berkah dan dirahmati Allah SWT.


Namun, siapa yang pertama kali memperkenalkan hari Jumat? Dalam buku "Pengantin Ramadhan", Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa sebelum datangnya Islam bangsa Arab memang tidak langsung menyebut hari Jumat, tapi disebut Al Arubah. 

Menurut dia, yang pertama kali memperkenalkan kata jumu'ah sebagai pengganti arubah justru adalah kakek Nabi Muhammad Saw yang bernama Ka'ab bin Lu'ay. 

Lulusan Al Azhar Mesir ini mengatakan, pada hari itu suku Quraisy selalu berkumpul di rumah Ka'ab yang selalu mengingatkan mereka akan kedatangan seorang nabi, yaitu Rasulullah SAW. Menurut Muchlis, disebut jumu'ah karena pada hari itu orang sering berkumpul melakukan shalat dengan tata cara yang berbeda dengan shalat lima waktu lainnya. 

Hari Jumat sendiri juga disebut sebagai 'sayyidul ayyam' atau berarti tuannya semua hari. Dalam beberapa hadits telah disebutkan bahwa hari Jumat merupakan hari yang paling baik dibandingkan hari lainnya. Karena itu, pada hari Jumat umat Islam berkumpul dan bersujud kepada Allah SWT. "Sungguh hari Jumat adalah tuannya hari-hari dan yang paling agung di sisi Allah." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Pada hari Jumat maupun malam Jumat juga dianjurkan untuk membaca shalawat Nabi. Dengan selalu membaca shalawat atau doa, Allah SWT akan mencintai dan senang kepada hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

“Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali." (HR Baihaqi).

Sumber: Republika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar