Tokoh Perbukuan Islam 2020: Api Inspirasi Adian Husaini - Harian Amanah Medan

Breaking

Rabu, 04 Maret 2020

Tokoh Perbukuan Islam 2020: Api Inspirasi Adian Husaini

Oleh M. Anwar DjaelaniPenulis buku “Jejak Kisah Pengukir Sejarah”
Tokoh Perbukuan Islam, sebuah predikat bergengsi. Gelar itu disematkan kepada Dr. Adian Husaini, di pembukaan “Islamic Book Fair (IBF)” ke-19 pada 26/02/2020. “Dia sangat layak mendapatkannya,” kata banyak orang. Benarkah? Siapa Adian Husaini?
Jejak Lengkap Tokoh Perbukuan Islam 2020 : Api Inspirasi Bernama Adian Husaini
Kriteria Tokoh Perbukuan Islam adalah orang yang konsisten menulis buku selama lima tahun terakhir dan memberikan kontribusi yang jelas bagi dunia tulis-menulis. “Alhamdulillah, gelar itu memang pantas untuk Adian Husaini,” kata Ady Amar – aktivis perbukuan di Surabaya.
Capaian prestasi Adian Husaini itu disambut rasa syukur oleh banyak kalangan, terutama para pendidik dan aktivis dakwah. Pengakuan atas ketokohan dari salah seorang pendiri dan peneliti senior di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) itu, semakin meneguhkan posisinya sebagai intelektual Muslim yang berpengaruh.
Berpengaruh? Kesan ini sulit untuk dielakkan, mengingat Adian Husaini –bisa dibilang- orang yang tak pernah berhenti menulis dan mempublikasikannya, baik dalam bentuk buku maupun artikel. “Terakhir”, tercatat buku yang telah diterbitkannya sekitar 50 judul dan tiap hari minimal menulis satu artikel.
Siapa Adian Husaini, yang sangat produktif menulis itu? Dia lahir di Bojonegoro pada 17/12/1965. Saat tulisan ini dibuat, awal Maret 2020, dia menetap di Pesantren At-Taqwa Cilodong Depok yang didirikannya pada 2014.
Desember 2016, bersama Dr. Alwi Alatas, Dr. Muhammad Ardiansyah, dan lain-lain, Adian Husaini meluncurkan program pendidikan tingkat SMA bernama PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization). PRISTAC berada di bawah naungan Pesantren At-Taqwa Depok.
Di PRISTAC para santri dilatih menjadi manusia yang mandiri, yaitu mandiri dalam pemikiran, mandiri dalam sikap, dan mandiri dalam kehidupan. PRISTAC bukan sekadar pendidikan semacam pra-universitas. Di sana, para santri sudah dididik seperti mahasiswa: Belajar mandiri, membaca buku, membuat resensi, menulis makalah, memberikan presentasi, mengajar, menghadiri diskusi atau seminar, berwirausaha, dan sebagainya.
Selain PRISTAC, di Pesantren At-Taqwa ada juga At-Taqwa College. Di lembaga yang kerap disingkat Atco itu, Adian Husaini menjadi direktur.
Pendidikan formal Adian Husaini sampai SMA ditempuh di Bojonegoro. Adapun riwayat pendidikan tinggi-nya terbilang “warna-warni”. Untuk S1, dia Sarjana Kedokteran Hewan – Institut Pertanian Bogor (IPB). Lalu, menyelesaikan S2 di bidang Hubungan Internasional di Universitas Jayabaya – Jakarta. Tesisnya dibukukan, berjudul “Pragmatisme dalam Politik Zionis Israel”. Sementara, gelar Ph.D. di bidang Peradaban Islam diraih di International Institute of Islamic Thought and Civilization – International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Kuala Lumpur. Disertasinya, “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council”: A Critical Reading of The Second Vaticand Council Documents in the Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate” lantas dibukukan oleh almamaternya (2011).
Dalam keagamaan, Adian Husaini pernah belajar ke banyak guru dan ulama, di ”kampung” dan di ”kota”. Di antara yang menarik, dia mulai membaca karya-karya Buya Hamka sejak di SMP lewat koleksi sang ayah. Dachli Hasyim, sang ayah, seorang guru SD dan pengurus Muhammadiyah Kecamatan Padangan Bojonegoro kala itu.
Adian Husaini pernah berguru, antara lain kepada KH Didin Hafidhuddin, KH Abdullah bin Nuh, KH Tugabus Hasan Basri, Ustadz Abdurrahman Al-Baghdadi, HM Cholil Badawi, dan KH Kholil Ridwan. Juga, belajar kepada Ustadz Abbas Aula, Ustadz Abdul Hanan, Ustadz Musthafa ABN, serta Ustadz Dimyati Pesantren Darul Ulum Bogor, dan sebagainya. Pun, mengambil ilmu dari H. Hartono Mardjono, H. Hussein Umar, H.A. Sumargono, dan lain-lain.
Belakangan, dia berguru pula kepada pakar pemikiran Islam internasional, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud di Kuala Lumpur. Guru Besar yang disebut terakhir itu kemudian mengantarkannya untuk mengenal pemikiran dan mengenal pula secara pribadi Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Kelak, dari ”persentuhan” ini lahir dua buku: ”Mengenal Sosok dan Pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud” (2020) dan “Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor Wan Daud; Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer” (2012).
Sisi keilmuan dan pengalaman bermasyarakat dari Adian Husaini semakin mantap lewat berbagai organisasi yang dia aktif di dalamnya. Sebagai pelajar, wawasan antara lain didapatnya di Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat mahasiswa, dia aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) IPB. Di kemudian hari, semakin matang lewat posisinya -antara lain- sebagai Pengurus Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat (2000-2010), Pengurus Majelis Tabligh dan Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah (2005-2010), anggota Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia –DDII- (2015-2020).
Bagaimana awal aktivitas menulis Adian Husaini? Sejak di IPB, di pertengahan 1980-an, Adian Husaini telah rutin menulis di bulletin ”An-Nahl” yang terbit tiap Jum’at. Kemudian, antara 1990 sampai 1997 menjadi wartawan, bermula di Berita Buana dan kemudian di Republika. Pernah pula menjadi koresponden sebuah koran di Jepang. Hal penting lainnya, dia aktif menjadi penulis lepas di beberapa media nasional hingga entah kapan.
Adian Husaini produktif menulis buku. Dalam usia belum 55 tahun, sekali lagi, telah dia terbitkan sekitar 50 buku. Berikut ini, sebagian dari karya-karya itu, dan dari sini kita tahu kapasitas Adian Husaini.
Adian Husaini, seorang pemikir dan telah teruji. Cermatilah dua judul buku ini dan penghargaan yang didapatnya. ”Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal”. Buku terbitan 2005 ini terpilih menjadi Buku Terbaik pertama kategori nonfiksi dewasa di IBF Jakarta – 2006. Sementara, buku ”Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi” yang terbit 2006 ditetapkan menjadi Buku Terbaik kedua kategori nonfiksi dewasa di IBF Jakarta – 2007.
Adian Husaini, kritis. Rasakanlah antara lain lewat judul-judul ini: ”Islam Liberal: Konsepsi, Sejarah, Penyimpangan, dan Jawabannya” (2002) . ”Pluralisme Agama: Haram, Fatwa MUI yang Tegas dan Tidak Kontroversial” (2005). ”Membendung Arus Liberalisme di Indonesia” (2009). ”Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam” (2009).
Sebagai pendidik, tema pendidikan tentu saja menjadi perhatian utama Adian Husaini. Bacalah: ”Kiat Menjadi Guru Keluarga” (2019). ”Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab” (2010). ”Pendidikan Islam, Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya” (2018). ”10 Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi” (2015). ”Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi” (2019).
Perhatian Adian Husaini sangat luas. Di sosial-keagamaan, dia menulis: ”Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam” (2009). ”Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab” (2015). Bahkan, buku berjenis fiksi dia juga sentuh. Dia terinspirasi dengan Buya Hamka yang di antara cara berdakwahnya dengan menulis fiksi. Maka, dia-pun menulis trilogi novel, ”KEMI – Sebuah Novel Pendidikan” (2010).
Adian Husaini, kreatif. Lihat aktivitas berikut ini. Bahwa, sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas usia 54 tahun, dia meluncurkan 54 artikel pilihan. Memang, pada 17/12/2019 Adian Husaini tepat berusia 54 tahun. Untuk itu, di hari tersebut, dia berbagi 54 artikel pilihan yang disebarkan kepada para sahabatnya.
Menurut Adian Husaini, gagasan tersebut datang mendadak, saat dia tiba di Kuala Lumpur pada 14/12/2019. Kala itu dia menemani santri-santri asuhannya -di PRISTAC At-Taqwa Depok- yang sedang mengadakan Rihlah Ilmiah ke Malaysia dan Singapura.
“Praktis dalam dua hari –15 dan 16 Desember 2019– saya harus menyiapkan 54 artikel. Sebagian besar adalah merombak dan menyajikan ulang artikel-artikel atau makalah-makalah lama, menjadi artikel baru yang lebih enak dibaca dan mudah difahami. Hal yang penting, isi artikel itu masih relevan dengan perkembangan pemikiran kontemporer saat ini,” tutur pria penyuka aneka produk kuliner ini.
Adian Husaini, responsif. Perhatikan judul buku-buku ini dan tahun penulisannya: “Gus Dur, Kau Mau ke Mana; Telaah Kritis Atas Pemikiran dan Politik Keagamaan Presiden Abdurrahman Wahid” (2000). “Presiden Wanita; Pertaruhan Sebuah Negeri Muslim” (2001). “Yusril versus Masyumi; Kritik terhadap Pemikiran Modernisme Islam Yusril Ihza Mahendra” (2000).
Adian Husaini, kaya ide. Menandai usianya saat tepat setengah abad, dia terbitkan buku “50 Tahun Perjalanan Mencari Ilmu dan Bahagia”. Di buku setebal 299 halaman itu, memuat semacam biografi Adian Husaini, terutama dalam hal perjalanan mencari ilmu dan berbagai pemikirannya. Maka, pembaca bisa menyusuri kisah dia terkait suka-duka mencari ilmu di beberapa pesantren, berguru kepada beberapa ulama dan tokoh. Ditulis dalam bentuk dialog dan dilengkapi dengan pandangannya terhadap isu-isu penting di tengah masyarakat. Di buku tersebut terekam salah satu pesan penting dari sang ibu kepada Adian Husaini ketika nyantri: “Semakin menderita, kamu semakin sukses!”
Adian Husaini tak henti menulis. Mulai 10/11/2019 dia meluncurkan program “Pojok 1000 Artikel Pilihan Adian Husaini”. Program artikel berlangganan ini telah menjaring ratusan pelanggan. Sesuai nama program, setiap hari Adian Husaini meluncurkan minimal satu artikel baru.
Adakah Adian Husaini punya waktu khusus untuk menulis? “Beliau menulis tidak kenal tempat dan waktu. Bisa di mobil, di pesawat,” kata Dr. Muhammad Ardiansyah yang sering menemani Adian Husaini pergi. Ini persis kesaksian istri Adian Husaini, bahwa “Beliau membaca dan menulis kapan saja, sejauh yang bisa beliau lakukan. Hal itu, bahkan sering sampai tengah malam”.
Kembali ke panggung IBF 2020. Sesaat setelah dianugerahi gelar Tokoh Perbukuan Islam 2020, Adian Husaini diminta memberi sambutan. Dia-pun memanfaatkannya sebentar. Intinya, dia berharap akan lahir penulis-penulis hebat di masa mendatang. Oleh karena itu, dia mengharapkan dukungan dari semua pihak, untuk bisa mewujudkan hal tersebut.
Harapan di atas tentu saja sangat mengesankan. Lalu, di titik ini, menarik jika kita tanya: Bagaimana dengan performa anak-anak Adian Husaini? Menurut penuturan istrinya, dari tujuh putra-putri mereka –alhamdulillah- empat di antaranya sudah terlihat minat menulisnya. Mereka adalah: Bana Fatahilah, 23 tahun, kuliah di Jurusan Tafsir Al-Azhar Mesir. Dina Farhana, 21 tahun, kuliah di Pascasarjana UI. Fatih Madini, 17 tahun, mahasantri At-Taqwa College Depok. Alima Pia Rasyida, 14 tahun, santri PRISTAC – Pesantren At-Taqwa Depok.
Khusus Fatih Madani, sudah punya karya buku dan bahkan di saat usianya masih 16 tahun. Judulnya, “Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia”. Buku itu diluncurkan pada 23/10/2018 dan lalu dipresentasikan di berbagai tempat termasuk di Kuala Lumpur.
Apakah anak-anak itu dilatih secara khusus? Ternyata tidak. “Pak Adian hanya mengingatkan pentingnya menulis,” kata Megawati. Misal, Dina Farhana –yang menjalani _home schooling_- dari usia 9 tahun sudah diminta membuat semacam buku harian. Lalu, “Pak Adian mengoreksi dari sisi penulisan dan bahasanya. Alhamdulillah, bisa menjadi kumpulan cerpen,” lanjut istri Adian Husaini.
Fatih Madini menulis kegiatan-kegiatan, pelajaran-pelajaran, dan nasihat-nasihat dari para ustadz selama di Pesantren At-Taqwa Depok. Akhirnya, bisa menjadi buku dengan judul seperti telah disebut di atas. Sementara, si sulung -Bana Fatahilah-, telah terlebih dahulu dari adik-adiknya. Dia menulis lebih serius berdasar bacaan-bacaan yang ditekuninya.
Anak-anak Adian Husaini memang suka membaca. Beruntung, di PRISTAC At-Taqwa Depok para santri sering diminta membuat makalah dari setiap materi yang diajarkan. Ini yang menambah semangat. “Pak Adian sangat membantu setiap orang yang mau menulis, apalagi terhadap anak-anaknya sendiri. Walau beliau sering ke luar kota dan ke luar negeri, email dan WhatsApp dijadikan fasilitas untuk mengoreksi tulisan anak-anaknya,” pungkas sang istri.
Adian Husaini –yang menjabat sebagai Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor- bisa dibilang memiliki talenta yang lengkap. Kemampuan lisannya dalam berkata-kata, tak kalah cakap dengan tangannya di saat menulis. Tentang hal ini, insya-Allah banyak yang mengiyakannya. Lihat, misalnya, kesaksian setidaknya tiga orang berikut ini.
Adian Husaini, kata Abu Darda –salah satu ustadz di Pondok Modern Gontor dan dosen Unida-, “Memiliki kemampuan berbicara maupun menulis yang sama-sama baiknya. Bahasa dia cair meskipun itu berkaitan dengan teori tertentu, misalnya”. Lebih jauh, dia-lah “Sosok ilmuwan dan sekaligus jurnalis yang mumpuni, dua hal yang memungkinnya untuk cakap bicara dan sekaligus trampil menulis,” terang kandidat doktor di Universitas Negeri Malang ini.
Adian Husaini, kata Anang Prasetyo –seorang guru dan pelukis-, “Di saat berbicara terlihat berwibawa, tenang, sistematis, padat, dan bernas. Apa yang diceramahkannya secara verbal, setara dengan jika kita membaca tulisan-tulisannya. Berbobot dan penuh dengan ilmu yang mendalam”. Lebih lanjut, “Setiap kata-katanya kuat dan tertata rapi, sehingga menarik untuk dikutip,” jelas aktivis yang tinggal di Tulungagung ini.
Dua kesaksian di atas, untuk performa Adian Husaini di masa kini. Bagaimana dengan performa dia di sekitar awal 1990-an? Mari dengar tuturan Drg. Lila Muntadir, Sp.Ort., bahwa Adian Husaini jika sedang bicara, “Lugas, jeli, kuat di data, dan tak punya rasa takut”. Pendek kata, lanjut wanita yang aktif di Masjid Universitas Airlangga di awal 1990-an ini, performanya “Memukau!”
Adian dan “Adian”
Semoga sekilas kisah Tokoh Perbukuan Islam 2020 ini turut menjadi “api” yang membakar ghirah umat. Ghirah dalam melahirkan banyak “Adian”, yaitu penulis hebat (dan jika bisa sekaligus cakap dalam berbicara). Bismillah, Allahu-Akbar! 

Sumber : Kanigoro 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar