Harapan Palsu Bintang Tsurayya - Harian Amanah Medan

Breaking

Kamis, 30 April 2020

Harapan Palsu Bintang Tsurayya



Oleh: Anugrah Roby Syahputra
IG @anugrah.roby

Covid-19 telah berbulan-bulan menghantui bumi. Penyakit yang disebabkan virus korona baru ini sudah jadi pandemi. Lebih dari dua juta orang dinyatakan terinfeksi. Ratusan ribu di antaranya meregang nyawa. Tak ayal manusia larut dalam kepanikan tak tertahankan. Apalagi protokol ketat diberlakukan dalam proses pemakaman. Anggota keluarga intipun tak bisa hadir dalam upacara perpisahan nan sakral itu.

Sebagian orang menderita psikosomatis. Tak sakit tapi seolah sakit. Ini gangguan mental akibat stres dan kecemasan berlebihan. Diduga massifnya berita negatif tentang corona menjadi sebabnya. Lalu ramailah kampanye “berhentilah sebarkan teror, sebarkanlah optimisme”. Sialnya, sebagian “pesan positif” tadi adalah kabar bohong atau disinformasi yang berimbas publik semakin abai terhadap imbauan physical distancing.

Salah satu misinformasi yang cukup fatal adalah beredarnya video ceramah seorang ustadz tentang kemunculan bintang tsurayya di bulan Mei sebagai pertanda diangkatnya wabah. Video ini viral di grup Whatsapp. Dari akun media sosial yang tertera di video sang ustadz bernama Rizqi Dzulqornain al Batawi. Video tersebut pertama kali diunggah di akun instagramnya @rizkialbatawi pada tanggal 6 April 2020.

“Banyak orang bertanya-tanya, kapan wabah ini, virus corona ini berakhir. Jawabannya disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya ‘Musnad’, kumpulan kompilasi hadis-hadis Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab: ‘Idza thala’a al-najmu dza shabahin rufi’at al-‘ahadu’ apabila suatu saat nanti muncul bintang di satu pagi, pada pagi hari, maka akan diangkatlah segala macam wabah, virus, yang menular, yang memakan korban secara massal,” demikian ia meyakinkan penonton.

Lalu beliau menjelaskan dengan mengutip pendapat Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna’ al-Sa’ati (yang notabene adalah ayah dari pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna) dalam kitabnya “Al-Fath al-Rabbani Li Tartibi Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani,” bahwa yang dimaksudkan dengan al-najmu (bintang) ini adalah bintang Tsurayya. Dengan merujuk kepada Imam Ibnu Mulaqqin, bintang ini akan muncul pada permulaan bulan “Ayyar” , yakni bulan Mei.

Lalu dia melanjutkan, “Ini bulan April. Mudah-mudahan orang yang pada mau pulang kampung, orang yang pada punya urusan, semuanya akan kembali normal kembali”.

Sang Ustadz juga menekankan pernyataan “rufi’at niha’iyyan, diangkat secara total. Wabah penyakit menular akan hilang dari alam dunia ini.”

Bahkan ia mengutip pendapat Syaikh al-Sa’ati, bahwa “bala itu maksimal menimpa suatu negeri tidak lebih dari lima puluh hari.” Dan menurut Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dan Imam Badruddin al-‘Aini, dalam Syarh Shahih Bukhari, “Wabah ini akan terangkat ‘inda-sytidadi al-harri fi awwali al-shaifi”, ketika masuk musim panas."

Ceramah ini ramai beredar karena dianggap sebagai kabar bahagia. Apalagi katanya ini semua adalah “prediksi Rasulullah saw yang berdasarkan wahyu”. Orang menyebar video ini dengan rasa gembira. Ditambah lagi yang menyampaikan ustadz berjubah panjang, berkopiah dengan latar perpustakaan dengan deretan kitab berjilid-jilid. Sunggguh meyakinkan. Akun instagram @hermanelhazard milik Da’i MUI Pusat, Abi Herman juga mengunggah video berlatar musik instrumentalia ala video motivasi dengan penjelasan yang sangat mirip.

Namun, apakah benar corona akan berakhir di bulan Mei dengan kemunculan bintang tsurayya? Banyak ulama dan cendekiawan telah memberikan penjelasan mengenai kerancuan informasi ini. Pengajar Pesantren Persis Pasirwangi 73 Garut, Ismail Alfasiry dalam tulisannya di hidayatulah.com menegaskan bahwa munculnya bintang tsurayya menjadi pertanda musim panas di Hijaz dan seiring dengannya, buah-buahan disana matang dan bersih dari hama, bukan wabah corona.

Selain itu, yang mengatakan bahwa munculnya Tsurayya sebagai pertanda hilangnya hama buah-buahan (dzahirnya) bukanlan Nabi saw melainkan Ibnu Umar ra. Beliau mengetahui itu dari kebiasaan yang terjadi di Hijaz. Disebutkan Ibnu Abdil Barri, menurut para ahli bahwa kemunculan bintang tsurayya terjadi 12 hari berlalu dari bulai Mei (lihat al Istidzkar 6/306), ini menunjukan khusus daerah Hijaz dan sekitarnya. Oleh karena bumi bulat, bintang tsurayya tidak muncul bersamaan disetiap negara, musim pun berbeda-beda antara negeri satu dengan lainnya.

Pengajar di STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang Ustaz Yendri Junaidi dalam tulisan di laman facebooknya menjelaskan, Imam ath-Thahawi dalam kitab Syarah Musykil al-Atsar memaparkan kalender orang-orang Mesir kuno menyebut Tsurayya ini muncul pada bulan Basyans. Bulan Basyans menurut kalender orang-orang Suryani yang dijadikan acuan masyarakat Irak adalah bulan Ayar yang dalam kalender Masehi adalah Mei. Namun, Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani setelah mensyarah hadis ini mengatakan, yang menjadi patokan sebenarnya adalah masak atau matangnya buah-buahan. Adapun munculnya bintang hanyalah pertanda saja.

Menurut beliau, fokus dalam hadis ini adalah penegasan bahwa buah-buahan yang masih di batangnya tidak boleh dijual hingga terlihat dan terbukti sudah matang. Baik matangnya itu ditandai warnanya yang sudah merah maupun terbitnya bintang di langit. "Saya lebih cenderung mengartikan kata bintang dalam hadis itu dengan tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan, bukan bintang. Sehingga arti dari kalimat terbitlah bintang adalah sampai muncul buahnya," ujar alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo ini.

Lebih tegas, Moch Nur Ichwan dalam artikelnya di alif.id menyebutkan bahwa anggapan hadis ini sebagai ramalan tentang wabah telah gugur dengan fakta-fakta sejarah. Pendapat bahwa kalau bintang Tsurayya itu muncul  maka “wabah, virus, yang menular, yang memakan korban secara massal” diangkat selamanya, dan bahkan dikatakan diangkat dari semua negeri secara total sekali bertentangan dengan fakta sejarah.

Kita melihat bahwa wabah pada masa Umar bin Khattab di Syam, yang korbannya puluhan ribu, termasuk di dalamnya beberapa sahabat senior. Bahkan wabah tha’un pada 357 H mencapai Mekkah. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, terjadi wabah besar di Mekkah pada saat musim haji. Banyak jamaah yang meninggal sebelum sampai Mekkah, sehingga sedikit yang dapat berhaji, dan dari yang sedikit ini, banyak yang meninggal setelah haji. Setelah itupun masih terjadi wabah-wabah lain dengan korban yang besar juga, baik di dunia Arab maupun di luarnya.

Tentu kita semua ingin corona lekas pergi. Tapi caranya adalah mengedukasi publik agar sebisa mungkin untuk sementara waktu bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Sebab menyebar misinformasi bermodal hadis bukanlah solusi sama sekali. Malah berpotensi mengundang penghinaan pada Nabi: prediksinya tak akurat, bahkan dituduh berdusta jika di Mei atau Juni (ketika Tsurayya atawa Lintang Wuluh/Lintang Kartika hadir), corona tak kunjung sirna dari seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar