Kedai Tuak Ditutup Karena Tak Kunjung Indahkan Peringatan, Ini Penjelasan Lengkap FPI - Harian Amanah Medan

Breaking

Kamis, 30 April 2020

Kedai Tuak Ditutup Karena Tak Kunjung Indahkan Peringatan, Ini Penjelasan Lengkap FPI

Batangkuis- Ketua Front Pembela Islam (FPI) Batang Kuis, Iskandar Ansor, menjelaskan awal mula keributan penutupan kedai tuak di Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa (28/4/2020) yang viral di media sosial.

Iskandar menjelaskan bahwa keberadaan warung tuak dianggap meresahkan masyarakat selama bulan Ramadhan.

Dia menyebut pihaknya sudah sejak jauh hari meminta pihak kecamatan ataupun dusun setempat untuk mengingatkan agar kedai tersebut tidak menjual tuak saat Ramadhan.

"Jadi akhir bulan 3 (Maret) sebelum Ramadhan saya sudah koordinasi dengan Pak Camat sama kawan-kawan, ada hal yang perlu disampaikan. Tanggapan Pak Camat, akan berkoordinasi dengan Polsek, katanya. Mungkin kebetulan sibuk dengan COVID-19, entah lupa atau apa, saya ingatkan lagi pas sudah dekat Ramadhan, 10 hari sebelum Ramadhan saya ingatkan lagi. 'Pak, warung tuak itu masih buka, Pak Camat', 'Waduh saya kekurangan personel, tolong dibantu ingatkan pak' (kata Camat), Insyaallah saya bantu ingatkan," kata Iskandar, Kamis (30/4/2020)

Iskandar mengatakan dirinya kemudian mengirim surat ke kepala dusun setempat agar mengingatkan kedai tuak itu tidak menjual tuak selama Ramadhan.

Sabtu (25/4/2020), FPI meminta kepala dusun agar menutup warung tuak itu. Kemudian pada Senin (27/4/2020), kepala dusun menyurati warung tuak dan meminta agar tempat itu tutup selama Ramadhan.

Tembusan surat itu diteruskan kepada kepala desa, camat hingga Polsek Batang Kuis.



Menurutnya, perwakilan dari pemilik kedai tuak juga sudah bertemu dengannya dan meminta agar mereka tetap bisa berjualan tuak.

"Sorenya datang perwakilan dari warung tuak ke rumah saya, minta supaya jangan, tetap buka lah, mana bisa saya bilang," ucapnya.

Iskandar menegaskan, pihaknya tidak akan melarang apabila pemilik warung hanya menjual teh manis atau pun kopi, selagi tempatnya ditutup tirai.

"Jadi intinya kita nggak melarang kalau jualnya teh manis, kopi," sambung Iskandar.

Dia menyebut kedai tuak tersebut tetap berjualan. Iskandar mengatakan beberapa warga yang resah mendesak agar dilakukan penutupan.

"Sebab ketika dilihat yang banyak minum tuak di situ kebanyakan sopir angkot. Mereka kemudian memarkirkan kendaraan di pinggir jalan hingga arus lalu lintas macet," ujar Iskandar.

"Diminta orang itu tutup hari ini, ya sudah saya bilang, makanya itu terjadi lah keributan," jelasnya.

Selanjutnya Hari itu sekitar pukul 17.00 WIB, anggota FPI mendatangi warung tuak untuk menutupnya. Karena pemilik warung tidak terima ditutup sehingga sempat terjadi keributan.

Saat kejadian, Iskandar mengakui salah satu kursi plastik milik pemilik warung tuak rusak saat keributan terjadi.

"Saya minta maaf, benar, secara lisan dan tulisan saya minta maaf atas keributan itu. Tapi kalau atas penutupan warung tuak itu saya tidak mau. Memang itu harus tutup," ujar Iskandar.

"Saya yang meminta maaf ke penjual tuak, saya yang minta maaf bukan karena menutup, tapi karena perusakan itu," sambungnya.

Mengenai laporan pemilik warung mengenai terhadap anggotanya, Iskandar mengaku telah mengetahuinya dan siap menghadapi proses hukum yang berlaku.

Kapolresta Deli Serdang Kombes Yemi Mandagi sebagaimana dikutip detiknews, Rabu (29/4/2020) mengkonfirmasi bahwa sebenarnya pemilik kedai tuak sudah diingatkan agar tutup saat Ramadhan.


Sejalan dengan itu, berikut keterangan kronologis dari Ketua DPW FPI Deli Serdang Ustadz Sulaiman Barus pada hari Jum'at (1/5/2020) melalui rekaman video.

Ustadz Sulaiman mengungkapkan dengan jelas fakta dan kronologis penutupan warung Lapo Tuak (Miras) milik Lamria Manullang.

Kronologis:

1. Ada Kedai LAPOK TUAK di Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara yg  telah sejak lama meresahkan masyarakat mayoritas muslim disana, krn gelar JUDI & jual ARAK, serta jadi tempat nongkrong PREMAN.

2. Sejak lama juga masyarakat sdh lapor aparat, tapi tdk digubris. Lalu masyarakat minta bantuan DPC FPI setempat utk dorong aparat tutup LAPOK TUAK, krn meresahkan masyarakat yg mayoritas muslim.

3. FPI setempat mengkomunikasikan soal LAPOK TUAK tsb jauh sebelum bulan Ramadhan dg aparat setempat, baik CAMAT mau pun POLISI  hingga Kepala.Dusun. Namun lagi-lagi tdk ada tindakan apa pun dari aparat yg berwenang.

4. Di Bulan Ramadhan kembali masyarakat mendatangi DPC FPI Batang Kuis minta bantuan tutup LAPOK TUAK tsb, apalagi di Bulan Suci Ramadhan. Lalu FPI menyurati Kepala Dusun menyampaikan aspirasi masyarakat tsb, namun tetap saja tdk ditutup, bahkan entah saran siapa tiba2 pemilik LAPOK TUAK mendatangi Pimpinan FPI utk menyuap/menyogok FPI agar LAPOK TUAK boleh buka di Bulan Suci Ramadhan, tapi DITOLAK sambil dijelaskan bhw LAPOK TUAK itu DILARANG sepanjang tahun, apalagi di Bulan Suci Ramadhan.

5. Akhirnya masyarakat marah & mendesak mau turun sendiri utk menutup LAPOK TUAK, lalu terpaksa FPI ikut turun mendampingi & mengawal masyarakat agar tdk ANARKIS.

KESIMPULAN :

1. Kasus LAPOK TUAK bukan soal SARA, tapi murni soal pelanggaran HUKUM & pelecehan SOSIAL serta pebodaan thd KEARIFAN LOKAL masyarakat DELI SERDANG yg notabene sejak dulu kala mayoritas muslim & sangat memuliakan Bulan Suci Ramadhan.

2. Kasus LAPOK TUAK sbg akibat pembiaran oleh Aparat & ketidak-pedulian thd aspirasi masyarakat.

3. Penutupan LAPOK TUAK murni keinginan masyarakat muslim sbg mayoritas warga Batang Kuis yg ingin menjaga wilayahnya dari segala bentuk kerusakan, sekaligus menkaga Kemuliaan Bulan Suci Ramadhan.

Berikut sumber videonya : https://www.faktakini.net/2020/05/terungkap-fpi-tolak-upaya-suap-lamria.html?fbclid=IwAR3U8ViUJLvHTLgm64k2ZlzujPuczmjcZ59IgISzHWnhwLt4FbleWNLZ9Ik&m=1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar