Mendalami Makna 'Atu Az-Zakah' - Harian Amanah Medan

Breaking

Sabtu, 11 April 2020

Mendalami Makna 'Atu Az-Zakah'

Kata yang digunakan al-Quran untuk memerintahkan kewajiban zakat atau sedekah adalah kata atu yang terambil dari akar al-atw.

Dari sini kemudian dapat kita temukan perintah mengeluarkan zakat berbunyi atu az-zakah atau sejenisnya seperti atuhum min mal Allah al-ladzi atakum (QS An-Nur: 33) "Berikanlah kepada mereka dari harta Allah yang telah diberikan-Nya kepadamu."

Dikutip M Quraish Shihab, menurut pakar bahasa Al-Quran, ar-Raghib al-Ashfahani kata "al-atw" ini pada mulanya berarti "kedatangan dengan mudah."

Dalam kamusnya, al-Fayruzzabadi menjelaskan sekian banyak maknanya. Di antara maknanya adalah bersikap jujur dan taat asas (istiqomah), pelaksanaan secara amat sempurna, memudahkan jalan, mengantar, seorang agung lagi bijaksana, dan lain-lain.

Dari makna-makna itulah, dapat terlihat bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh sang pemberi dan bagaimana mestinya sikap kejiwaannya ketika memberi.

Pemberian itu disebut sedekah (shadaqah), yang berarti kebenaran, kesungguhan dan ketulusan, sehingga hasilnya adalah zakat yang berarti kesucian hati dan harta dan pengembangannya.

Sementara Az-Zarkasyi, mengutup pendapat al-Juwayni, menyatakan bahwa kata "atu" tidak dapat diungkapkan dampak dan akibatnya dengan menggunakan akar katanya, atau dalam istilah tata bahasa, ia tidak memiliki muthawa'ah, yang berbeda dari kata a'tha yang juga berarti memberi, seperti terdapat dalam al-Quran (QS An-Najm : 34).

Hal ini memberikan kesan bahwa sesuatu yang diberikan hendaknya adalah sesuatu yang agung lagi besar.

Dalam Al-Quran jika ada pemberian yang diinformasikan menggunakan kata "atu" dalam berbagai bentuk, maka pemberian itu merupakan hal-hal agung lagi mulia, seperti kerajaan (QS Ali Imran: 26), hikmah (QS Al-Baqarah: 269) dan Al-Fatihah dan Al-Quran (QS Al-Hijr : 87).

Setidaknya dari makna-makna di atas kita dapat memetik hikmah salah satunya bagaimana menyalurkan zakat dengan benar.

Fenomena beberapa tahun lalu, salah satunya 2008 dimana ada sekitar 21 orang tewas sia-sia akibat rebutan zakat yang
dibagikan akibat berdesak-desakan untuk menerima
zakat di Jl Wahidin Pasuruan kala itu merupakan bukti bahwa hal tersebut bukan ajaran Islam, karena ajaran Islam justru zakat itu diantar dengan penuh kehormatan sebagaimana makna "atu az-zakah".

Selain itu, sesuatu yang diberikan dalam sedekah maupun zakat semestinya sesuatu yang agung dimuliakan bukan hal yang hina.

Wallahua'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar