Ustadz Abdul Latif Khan: Rahasia Alquran Ada dalam Mengamalkannya - Harian Amanah Medan

Breaking

Jumat, 29 Mei 2020

Ustadz Abdul Latif Khan: Rahasia Alquran Ada dalam Mengamalkannya



Sesungguhnya efek Al-Qur’an kepada jiwa manusia akan terasa jika makna-makna Al-Qur’an itu bersemayam di hati hingga memenuhinya dengan cahaya seraya menyinari anggota tubuh lainnya. Oleh karena itu, ketika Allah membukakan hati dan akal para sahabat dengan Al-Qur’an, maka mereka dapat menaklukkan dunia. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin mengetahui rahasia Al-Qur’an, maka hendaklah ia memohon pertolongan kepada Allah dan bersungguh-sungguh untuk memahaminya dan mengamalkannya; sungguh ia adalah wasiat para salafus-shalih dalam permasalahan ini.


Seorang laki-laki pernah datang kepada Abu Darda a seraya berkata, “anakku telah mengumpulkan Al-Qur’an (menghafalnya), maka Abu Darda pun kaget seraya berkata kepada lelaki tersebut, “Ya Allah, ampunilah. sungguh orang yang mengumpulkan Al-Qur’an adalah orang yang mendengarkannya seraya mentaati (mengamalkannya).”


Ibnu Mas’ud a berkata, “Al-Qur’an diturunkan agar diamalkan oleh manusia. Namun mereka menjadikan membacanya sebuah amalan hingga seseorang dari mereka mempunyai tujuan hanya membaca dari Al-Fatihah hingga surat terakhir dalam Al-Qur’an hingga tidak ada satupun huruf yang mereka tinggalkan; namun mereka telah meninggalkan pengamalan Al-Qur’an.


Umar bin Al-Khaththab a berkata, “Janganlah engkau tertipu kepada orang yang hanya gemar membaca Al-Qur’an karena ia hanya menjadikan Al-Qur’an sebuah ucapan yang diucapakan. Namun lihatlah kepada orang yang mengamalkannya.”


Para salaf telah memberikan contoh yang sangat bagus dalam mengamalkan Al-Qur’an:


1. Adalah Abu Bakar menafkahi Mistah bin Utsatsa karena ia masih termasuk kerabat dekatnya dan orang yang miskin. Ketika Mistah menuduh Aisyah dalam peristiwa al-ifk, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menafkahi Misthah lagi untuk selamanya karena ia telah menuduh Aisyah, lalu turunlah firman Allah, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan a menafkahi Mistah bin Utsatsah karena ia karena ia telah menuduh Aisyah,” lalu turunlah firman Allah di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(An-Nur: 22) maka Abu Bakar pun berkata, “Sungguh aku lebih menginginkan Allah mengampuniku,” lalu ia pun menafkahi kembali Mistah seraya berkata, “Sungguh aku tidak akan mencabut (nafkah)nya selamanya.”


2. Al-Hur bin Qais dan pamannya, Uyainah bin Hisn pergi menemui Umar bin Al-Khaththab ra. Uyainah pun berkata, “Demi Allah, engkau tidak memberikan kami hak yang cukup dan tidak pula memutuskan perkara kami dengan adil,” maka Umar pun marah hingga ia hampir saja menebas leher Uyainah. Lalu Al-Hur berkata, “wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah  berfirman kepada Rasul-Nya, “maafkanlah dan perintahkanlah untuk senantiasa berbuat baik dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.” (Al-A’raf: 199) dan sungguh ia (uyainah) termasuk orang yang jahil.” Ibnu Abbas h berkata, “Demi Allah, Umar tidak berbuat apa-apa ketika ayat tersebut dibacakan kepadanya karena ia adalah orang yang senantiasa mengamalkan firman Allah.”

3. Anas bin Malik a berkata, “Ketika turun firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujuraat: 2) maka Tsabit bin Qais a berkata, “Aku lah yang mengangkat suara melebihi suara Rasulullah , aku termasuk penghuni neraka, dan telah terhapus amalanku,” maka ia pun berdiam diri di rumahnya dalam kesedihan yang sangat dalam. Rasulullah pun merasa telah lama tidak melihat Tsabit bin Qais dan sebagian orang pun mencari-carinya hingga menemukannya di rumahnya. Mereka pun berkata, “Rasulullah mencarimu, ada apa denganmu?” ia menjawab, “aku adalah orang yang mengangkat suara melebihi suara Rasulullah dan bersuara keras di hadapannya. Telah terhapus amalanku dan aku termasuk penduduk neraka.” Maka orang-orang tersebut melaporkan kabar tersebut kepada Rasulullah , maka beliau pun berkata, “Tidak, sungguh ia termasuk penduduk surga.”

4. Mi’qal bin Yasar a berkata, “Aku menikahkan saudariku kepada seorang lelaki. Namun setelah menikah ia menceraikan saudariku hingga ketika saudariku selesai dari masa iddahnya, maka lelaki itu datang lagi ingin menikahi saudariku kembali. Maka akupun berkata kepada lelaki tersebut, “Dahulu aku telah menikahkannya kepadamu karena aku menghormatimu, namun engkau menceraikannya dan sekarang engkau datang lagi untuk menikahinya?! Demi Allah, ia tidak akan kembali kepadamu untuk selamanya,” namun sang wanita ingin kembali kepada mantan suaminya tersebut hingga Allah pun menurunkan firman-Nya, “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (Al-Baqarah: 232) maka ketika Mi’qal mendengar ayat ini, ia pun berkata, “Aku mendengar dan aku taat kepada-Mu wahai Rabb,” maka ia pun memanggil lelaki tersebut dan menikahkannya kembali dengan saudarinya.

5. Dari Zaid bin Tsabit a bahwasanya Rasulullah mendiktekan kepadanya, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.” (An Nisa’: 95) maka datanglah Ibnu Ummi Maktum a dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah jika aku dapat berjihad maka pasti aku akan berjihad,” dan ia adalah orang yang buta hingga tidak dapat ikut berperang, maka Allah menurunkan keterangan tambahan dari firmannya sebelumnya, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa memiliki udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An-Nisa’:95)
______________
Dikutip oleh Abdul Latif Khan dari buku TADABUR AL QUR'AN Menyelami Makna Al Qur'an dari Al Fatihah Sampai An Nas Karya Syaikh Adil Muhammad Khalil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar