Bagaimana Para Sahabat dengan Al-Quran - Harian Amanah Medan

Breaking

Senin, 01 Juni 2020

Bagaimana Para Sahabat dengan Al-Quran

Bersama Istri di Rumah

 Istri-istri para sahabat bertanya kepada suami-suami mereka sesampainya di rumah, “Apa yang turun hari ini dari firman-firman Allah? Apakah Allah menurunkan sesuatu hari ini?”

Bersama sahabat-sahabat mereka

Adalah Umar bin Al-Khaththab a saling bergantian dengan sahabatnya dari kalangan Al-Anshar untuk datang kepada Rasulullah untuk mempelajari ayat-ayat yang turun, lalu kemudian kembali untuk mengajari satu sama lainnya.

Begitu pula para sahabat jika berkumpul, maka mereka akan bertanya kepada Abu Musa Al-Asy’ari, ia adalah sahabat yang paling indah bacaannya, “Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami dengan Rabb kami!” yakni; bacakanlah kepada kami Al-Qur’an.

Dalam berdakwah di jalan Allah

 Allah  berfirman, “Dan diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini untuk memberi peringatan kepada kalian...” (Al-An’am: 19) maka para sahabat sengaja membaca Al-Qur’an di dekat orang-orang kafir karena mereka mengetahui bahwasanya Al-Qur’an berefek di hati dan jiwa orang-orang kafir tersebut sebagaimana kisah Nabi yang membacakan awal Surat Fushshilat kepada Utbah bin Rabi’ah dan juga kisah Najasi yang dibacakan kepadanya surat Maryam oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Dalam medan perang

Sudah menjadi suatu sunnah untuk membacakan ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan peperangan di medan perang sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa An-Nihayah.

 ~ Perang Yarmuk; Adalah Miqdad bin Al-Aswad a mengelilingi pasukan perang sembari membacakan kepada mereka Surat Al-Anfal dan ayat-ayat jihad lainnya.
~ Perang Al-Qadisiyyah; pada setiap kelompok dari pasukan kaum muslimin terdapat seorang qari yang membacakan kepada mereka Surat Al-Anfal dan ayat-ayat jihad ketika perang sedang berkecamuk.
~ Perang Dzat Ash-Shawari; Abdullah bin Sa’ad merapihkan barisan kaum muslimin di tepi-tepi kapal seraya memberikan mereka pengarahan untuk membaca Al-Qur’an khususnya Surat Al-Anfal.

Di rumah

Adalah para sahabat  memakmurkan rumah dan waktu mereka dengan membaca Al-Qur’an dan melihat mushaf setiap hari tanpa ada rasa malas dan bosan.

Lihatlah Umar bin Al-Khaththab ia membuka mushaf untuk membacanya. Begitupula ia juga pernah a ketika ia masuk rumah, maka dikunjungi oleh seseorang, namun ia membuat tamunya menunggu sendiri dalam waktu yang cukup lama, kemudian ia mengizinkan tamunya untuk masuk seraya berkata kepadanya, “Tadi aku menyelesaikan wiridku (bacaan Al-Qur’an) terlebih dahulu.”

 Aisyah berkata, “Sungguh aku membaca Al-Qur’an sambil duduk di atas kursi atau kasurku.” Begitupula dengan Hasan a yang membaca wirid Al-Qur’annya dari awal malam. Adapun Husain a membaca wirinya dari akhir malam.

Pernah seseorang bertanya kepada Nafi’, “Apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar h di rumahnya?” ia menjawab, “Ia melakukan sesuatu yang tidak mampu kalian lakukan; berwudhu di setiap shalat dan membaca Al Qur’an di sela-sela shalat.”

Antara raja dan masyarakatnya

Seseorang pepatah berkata, “Manusia di atas agama para raja mereka.” Lihatlah Al-Walid bin Abdul Malik yang memiliki kepentingan dalam pembangunan, maka masyarakatnya juga begitu ;hingga jika seseorang bertemu dengan orang lain, maka yang akan mereka tanyakan, “Apa yang telah engkau bangun?”

Lihatlah Sulaiman bin Abdul Malik yang mempunyai kepentingan dalam menikah, maka masyarakatnya juga seperti itu; hingga jika seseorang bertemu dengan orang lain, maka ia akan bertanya, “berapa istrimu? Berapa budak wanitamu?”

Namun lihatlah Umar bin Abdul Aziz yang memiliki kepentingan dalam membaca Al-Qur’an, shalat, dan beribadah, maka begitupula dengan masyatakatnya; hingga seseorang jika bertemu dengan yang lainnya maka ia akan bertanya, “Berapa wiridmu? Berapa lembar yang dapat engkau baca dari Al-Qur’an? shalat apa engkau tadi malam?”
_______________
Dikutip oleh ABdul Latif Khan dari Buku *TADABUR AL QUR'AN*, Karya Syaikh Adil Muhammad Khalil. Penerbit Pustaka AL Kautsar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar