Challenge and Response Theory - Harian Amanah Medan

Breaking

Senin, 17 Agustus 2020

Challenge and Response Theory


Oleh: Musyafa Ahmad Rahim

Seorang pakar sejarah Barat bernama Arnold Joseph Toynbee (14 April 1889 – 22 October 1975) memperkenalkan sebuah teori sejarah dikenal dengan istilah: "Challenge and Response Theory", yang maksud gampangnya menyatakan bahwa sebuah peristiwa, yang akumulasinya membentuk sejarah, terjadi karena adanya tantangan dari alam dan cara manusia meresponnya, baik pada skala kecil, yaitu diri manusia secara personal, maupun sekala menengah, yaitu tantangan yang dihadapi oleh suatu negara, yang tentu di dalamnya terdiri dari sekumpulan banyak manusia, dan respon negara itu terhadapnya, maupun dalam skala besar, yaitu tantangan yang terjadi di dunia dan alam semesta dan bagaimana manusia-manusia penghuni dunia ini meresponnya.

Dari sinilah muncul satu pemahaman bahwa suatu peristiwa, kecil ataupun besar di suatu tempat, pasti memiliki keterkaitan (istilah Melayu nya: terhubung kait) dengan berbagai peristiwa kecil atau pun besar di sekitarnya, baik sekitaran dalam lingkup kecil, ataupun sekitaran dalam lingkup menengah, atau pun sekitaran dalam lingkup besar nan luas.

Peristiwa perang Diponegoro (1825 - 1830) misalnya, ia adalah respon Pangeran Diponegoro terhadap tantangan yang muncul di sekitarnya, yang lalu, menimbulkan juga respon dalam skala menengah dan meluas, termasuk dari kekhilafahan Turki Utsmani dan kerajaan Belanda di daratan Eropa sana.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pada 17 Agustus 1945 adalah satu bentuk respon terhadap berbagai tantangan yang muncul di sekitarnya, yang diantaranya:

a. Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

b. Hindia Belanda yang belum tiba di tanah air Indonesia.

c. Vacum of Power yang terjadi di negeri ini pada saat itu.

Fakta proklamasi ini pun, oleh Hindia Belanda juga dimaknai sebagai sebagai suatu tantangan, yang lalu diresponnya dengan berbagai Agresi ke negara yang baru berdiri itu, baik Agresi I maupun Agresi II maupun bentuk-bentuk respon lainnya.

Lalu, fakta Agresi ini pun dipandang oleh Republik Indonesia sebagai sebuah tantangan, yang juga direspon dengan berbagai peristiwa, baik oleh negara maupun oleh rakyat, yang diantaranya:

a. Munculnya Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asy'ari (pendiri NU) pada 22 Oktober 1945, yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Santri Nasional.

b. Perang Gerilya yang dipimpin oleh Panglima Besar Jendral Sudirman, dan lain sebagainya.

Yang juga direspon oleh adanya gerakan Revolusi Diplomatik para pelajar RI di luar negeri, khususnya di Timur Tengah, yang lalu berbuah pada adanya pengakuan beberapa negara Timur Tengah terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia, yang ujung-ujungnya, pengakuan Belanda atas kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Saling terhubung dan saling terkait, antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, yang merupakan mata rantai gabungan antara tantangan dan respon di sana sini, yang keseluruhannya membentuk sesuatu yang disebut SEJARAH.

Pertanyaan dan sekaligus tantangannya bagi generasi sekarang adalah:

1. Kita ingin menjadi pencipta tantangan agar direspon pihak lain, atau kita menunggu tantangan orang lain untuk kita respon?

2. Seberapa mampu kita menciptakan besaran dan kekuatan suatu atau beberapa tantangan, agar juga mendapatkan respon dar pihak lain itu? atau...

3. Seberapa mampu kita merenpon tantangan besar dan kuat yang tercipta di sekeliling kita, agar sejarah kita pun tercatat sebagai sejarah besar?

Kalau kita hanya bermain di bak air, memang itu bisa disebut merespon suatu tantangan: basah, dingin dan semacamnya.

Atau kita bermain di kolam renang, itu juga sebuah cara untuk merespon suatu tantangan, dan tantangan ini lebih besar dan lebih kuat daripada sebuah bak air, karena ada peluang untuk tenggelam, kecuali yang mempunyai kemampuan untuk berenang dengan baik.

Tentu masalahnya akan jauh berbeda manakala kita mengarungi suatu samudra, sebab di sana bukan hanya ada ombak, tetapi, berpotensi ada gelombang.

Namun, fakta juga banyak menjelaskan bahwa GELOMBANG bisa dihadapi oleh GELORA yang MENGHARU BIRU memenuhi ruang khayal, angan, semangat, spirit dan DAYA JUANG sang PERESPON.

Pertanyaan terakhirnya, adakah anda adalah SANG PERESPON yang memiliki DAYA JUANG untuk mengarungi GELOMBANG itu, atau bahkan mungkinkah anda adalah sang pembuat GELOMBANG di mana pihak lain yang akan menjadi perespon nya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar