Ini Ciri Khas Ulama dan Ustadz Al-Washliyah - Harian Amanah Medan

Breaking

Senin, 17 Agustus 2020

Ini Ciri Khas Ulama dan Ustadz Al-Washliyah

Di dalam Buku Tradisi Keulamaan Al-Jam'iyatul Washliyah Sumatera Utara karya Dr H Muhammad Rozali MA (2017), terdapat keterangan ciri-ciri ulama dan dai Al-Jam'iyatul Washliyah.

Ulama Al-Jam'iyatul Washliyah mudah sekali dikenali dari beberapa hal, di antaranya adalah penampilan dan isi dakwah atau ceramahnya.

Ramli Abdul Wahid menjelaskan berdasarkan pengalaman mengamati ulama Al-Washliyah dari tahun 1960-an sampai tahun 2015, maka penampilan para ulama dari kalangan Al-Washliyah dapat dicatat sebagai berikut:

Ustadz dan dai Al-Jam'iyatul Washliyah biasanya pakai kain sarung, baju jas atau safari lengan panjang, selempang surban dan pakai peci. Waktu berkhutbah tidak memakai peci dan jubah.

Khatib memegang tongkat bila disediakan di tangga mimbar.

Dai Al-Washliyah tidak memakai dasi dan ketika khutbah tidak mengangkat angkat tangan sebagai isyarat untuk mendukung isi khutbahnya tetapi bergerak dan mengangkat-angkat tangan dalam ceramah. Sesekali ia bercanda sekadarnya, tidak terlalu sering dan tidak membumbuinya dengan kisah-kisah bohong.

Di samping penampilan yang punya perbedaan dengan gaya ulama lain, ulama Al-Washliyah dapat juga dibedakan dari isi ceramah serta metode dakwahnya.

Ustadz dan dai Al-Jam'iyatul Washliyah memulai ceramahnya langsung dengan salam tanpa didahului basmalah atau kata-kata penghormatan, pendahuluan ceramah tidak terlalu spesifik. Biasanya membaca hamdalah, shalawat atas Nabi, keluarganya dan para sahabat-sahabatnya. Setelah itu biasanya membaca ayat landasan Al-Jam'iyatul Washliyah. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ , تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Ulama Al-Washliyah sudah dapat dikenal dari awal ceramahnya, sudah kelihatan dari mukadimah. Selanjutnya, akan dilihat dari isi pembahasan.

Isi ceramah atau khutbah selalu berkisar di seputar iman, ibadah, akhlak dan tasawuf dalam akidah Ahlussunah Wa Jamaah dan fikih Mazhab Syafi'i.

Waktu berdiri khutbah memegang tongkat bila disediakan di tangga mimbar dan menyertakan lafaz Sayyidina kepada nama Nabi Muhammad Saw.

Ulama Al-Washliyah mahir dalam bahasa Arab. Khutbah kedua selalu dibaca lengkap.

Sebelum doa untuk kaum muslimin dan muslimat dibaca doa untuk Khalifah yang empat, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Disambung lagi doa untuk yang enam sisa dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga yakni Talhah, Az-Zubair, Sa'd, Sa'id, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Ubaidah ibn Jarrah.

Pada penutup ceramah, Ulama dan dai Al-Jam'iyatul Washliyah selalu membaca "wabillahi tawfiq wal hidayah" dan ada juga yang membaca "Nasrum minallahi wa fathum qarib wa basysyiril mukminin".

Ulama NU biasanya "Wallahul muwafiq ila aqwamith Thariq". Sedangkan dai Muhammadiyah dengan "fastabiqul Khairat".

Namun, yang perlu diingat Menurut Mukhtar Amin, kalimat Nasrum minallahi wa fathum qarib wa basysyiril mukminin sejatinya digunakan ustadz belakangan. Pada masa Ustadz M Arsyad Thalib Lubis dan ulama lain tidak pernah digunakan secara khusus.

Ulama Al-Washliyah membaca zikir sesudah shalat secara berjemaah dan doa berjemaah. Doanya dua kali dengan diselingi membaca Al-Fatihah di antara dua doa itu. Tapi doa kedua singkat saja.

Demikian pengamatan terkait ciri-ciri Ulama dan Dai Al-Washliyah. Namun, yang perlu dicatat sebagaimana dijelaskan Prof Ramli Abdul Wahid (rahimahullah) ini bukan persoalan hukum sah atau batal. Penampilan yang berbeda antar dai dan ustadz antar organisasi jangan dipandang sebagai perpecahan. Salah satu rahasianya adalah agar pendengar tidak bingung. Paham yang dikemukakan paham yang mana. Dengan melihat ciri maka pendengar paham bahwa penceramah berlatang belakang Al-Washliyah.

Ciri-ciri ulama ini, dominan dijumpai di tengah masyarakat pada awal berdirinya hingga tahun 1990-an. Namun fenomena ini sudah mulai berubah dengan kondisi masyarakat Sumut yang sudah mulai dimasuki organisasi lain juga munculnya Partai-partai politik yang turut mewarnai perubahan ini.

Sumber : Tradisi Keulamaan Al-Jam'iyatul Washliyah Sumatera Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar