Seperti Apa Fitur Manusia Indonesia? - Harian Amanah Medan

Breaking

Minggu, 16 Agustus 2020

Seperti Apa Fitur Manusia Indonesia?

Pertanyaan manis yang sangat menggugah di hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75, jatuh pada hari Senin 17 Agustus 2020.

Adalah H. Muhammad Anis Matta, tokoh sentral aktifis 98 dari Indonesia Timur dan mantan Pimpinan DPR RI periode 2009-2014 mengajukan hipotesa tentang Fitur Manusia Indonesia yang sangat brending.
Anis, begitu disapa menyebut Tiga fitur Manusia Indonesia. Tiga fitur ini sejak dahulu kala telah berakar pada sikap dan perilaku yang tercermin religius, cinta pada pengetahuan dan teknologi, serta unggul dalam relasi sosial, kemasyarakatan dan politik.

Anis Matta menyebutnya, (1) Efektif, (2) Inovatif dan (3) Kolaboratif, 3 fitur utama yang dibutuhkan untuk membangun fondasi kemakmuran dan peradaban masa depan Indonesia.

Pertama, Efektif. Bangsa kita terlalu banyak menghabiskan energinya untuk konflik internal pada hal-hal yang tidak perlu, dan membuat kita tumbuh dalam lingkungan sosial yang tidak efektif.

Mengutip Anis Matta (2020), Kita lebih banyak berbicara tentang perbedaan dan bukan persamaan. Ini menyebabkan kita kehilangan daya dorong untuk bergerak maju sebagai sebuah bangsa. Oleh karena itu kita perlu menumbuhkan lahirnya masyarakat efektif dengan menciptakan kembali "energi sosial" yang akan menjadi tenaga penggerak bangsa ini untuk maju.

Diksi tentang energi sosial ini tercermin dari pendapat Upholf N, (1996). Upholf menyebut paling tidak ada empat unsur Yaitu: (1) ide, (2) cita-cita, (3) persahabatan, dan (4) kepemimpinan.

Memiliki cita-cita besar yang melampaui kepentingan primordial kita masing-masing adalah kebutuhan yang perlu dimunculkan, untuk menjadi tujuan bersama. Suatu gagasan yang tidak hanya bisa menyatukan, tapi juga menjadi 'collective mind' yang memberikan arah dan tujuan bersama.

Dalam situasi ini perlu menumbuhkan kembali semangat persaudaraan, yang pada dasarnnya merupakan sifat bawaan bangsa kita dan juga cerminan dari religiusitas masyarakat kita. Serta mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin yang berfikir dan berjiwa besar yang mampu menginspirasi bangsanya untuk bergerak, bukan dengan kekuatan pemaksa dan otoritas. Munculnya semangat dan energi sosial semacam ini akan membuat kehidupan sosial kita jauh lebih efektif.

Kedua, Inovatif. Kita hidup dalam era percepatan yag membuat pengetahuan-pengetahuan lama lebih cepat kehilangan relevansi. Persoalan-persoalan baru hadir dan memerlukan cara-cara baru dan pendekatan-pendekatan baru dalam menyelesaikannya. Dalam posisi ini dibutuhkan semangat inovasi dan kreatifitas yang tinggi dalam masyarakat. Inovasi tidak selalu kaitannya dengan temuan-temuan ilmiah dalam dunia sains, tapi juga metode-metode baru dalam memecahkan persoalan masyarakat yang serba instan.

Dengan demikian kita perlu mendorong lahirnya masyarakat berpengetahuan (knowledge society) dan pencerahan (enlightman). Sebuah masyarakat yang ditandai dengan pemerataan pendidikan tinggi dan pemanfaatan pengetahuan serta inovasi sebagai faktor utama dalam penciptaan kemakmuran, mendahului faktor produksi klasik lainnya.

Dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, individu dan komunitas bisa saja mendorong terwujudnya masyarakat berpengetahuan di Indonesia. Tetapi untuk mewujudkannya dalam skala yang lebih luas dan waktu yang relatif lebih singkat, kebijakan pemerintah akan jauh lebih berpengaruh. Sebagai gambaran bahwa Kebijakan yang terencana terarah dengan dukungan anggaran yang lebih pasti (alokasi dan distibusi yang adil), akan membuat peroses capaian tujuan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan efektif.

Ketiga adalah kolaboratif. Persoalan bangsa ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh otak satu orang. Juga terlalu rumit untuk diselesaikan oleh pikiran satu orang. Oleh karena itu, dibutuhkan semangat kolaborasi sesama anak bangsa dari berbagai entitas.

Bangsa ini yang terdiri dari berbagai entitas memiliki otak-otak cerdas dan bakat-bakat hebat yang tersebar di berbagai penjuru negeri (banyak prestasi yang di toreh putra/i bangsa)

Yang belum kita lakukan sebagai sebuah bangsa adalah mempertemukan otak dan bakat-bakat hebat ini dalam semangat kolaborasi untuk kepentingan bangsa kita. Potensi-potensi berserakan ini perlu diwadahi oleh negara, dengan menyediakan ruang-ruang kolaborasi dan penghargaan terhadap kontribusi serta karya-karya mereka (Anis Matta, 2020)

Dengan hadirnya masyarakat yang efektif, inovatif dan kolaboratif, maka kita telah menciptakan suatu budaya baru (the new culture) pada bangsa kita. Budaya yang menjadi modal besar bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi negara maju, melengkapi modal yang telah kita miliki sebelumnya, yaitu bonus demografi dan kekayaan alam. Maka, Insha Allah dan atas ijin Allah, Tuhan Yang Maha Esa, mimpi untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia akan sangat mungkin terwujud di masa depan

Oleh:  Mr Sate

#GeloraKemerdekaanIndonesia2020
#IndonesiaMaju
#PartaiGeloraIndonesia
#AkademiPemimpinIndonesia

Merdekaaaaaaa Bro.....!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar