Wawancara Eksklusif Tokoh KAMI asal Sumut, Dr Masri Sitanggang - Harian Amanah Medan

Breaking

Senin, 03 Agustus 2020

Wawancara Eksklusif Tokoh KAMI asal Sumut, Dr Masri Sitanggang

Tanggal 02 Agustus 2020, di Café Kendil, Bilangan Jakarta Selatan sejumlah tokoh mengumumkan lahirnya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Sesuai dengan namanya, koalisi ini digagas dan didukung para tokoh intelektual lintas generasi, lintas agama dan lintas organisasi yang prihatin dan peduli terhadap nasib Indonesia kini dan akan datang. Salah seorang yang ikut dalam Koalisi tersebut adalah Dr. Masri Sitanggang, tokoh intelektual sekaligus aktivis Muslim Sumatera Utara yang dikenal dengan tulisan-tulisannya yang kritis dan tajam.

Berikut petikan wawancara dengan Dr. Masri Sitanggang 
 
Pertanyaan :
1. Apa hal konkret yang akan dilaklukan KAMI dalam waktu dekat ?

Jawab : Sekarang ini yang bersetuju untuk bergabung dengan KAMI tidak kurang dari 150 tokoh dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai ormas serta latar belakang agama. Kita berharap gerakan KAMI bisa menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, bukan hanya di Jakarta. Sebab, untuk menyelamatkan Indonesia dengan problemanya sekarang,  sungguh perlu banyak tenaga dan secara geografis dapat merata. Oleh karena itu dalam waktu singkat konsolidasi ke daerah-daerah menjadi perioritas.

Agenda lain adalah mengeluarkan maklumat, apa dan bagaimana pesan dalam maklumat itu, kita tunggu saja. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Din Syamsuddin, hal itu akan disampikan dalam kegiatan sekitar 17 Agustus yang akan datang.

Pertanyaan :
2. Sebagai Orang Sumut, bagaimana menilai negara saat ini ?

Jawab  : Kita tidak melihat persoalan negara ini dari kacamata kedaerahan, tetapi persoalan kebangsaan secara keseluruhan. Persoalan yang dihadapi sekarang memang mengkhawatirkan. Persoalan hutang negara yang kian membengkak, yang oleh para pakar ekonomi diperkirakan Indonesia akan sulit membayar dan mengancam kedaulatan bangsa; persolan kemiskinan dan biaya hidup yang semakin menyulitkan rakyat; persolan angka pengangguran yang semakin tinggi dan banjirnya masuk TKA;  masalah kesenjangan di berbagi bidang baik ekonomi maupun pelayanan publik; masalah korupsi yang kian terbuka; masalah keadilan dan persamaan di depan hukum yang kian jauh dari harapan; Masalah oligarki; masalah praktek dinasti kekuasaan yang dahulu kita tolak sebagai KKN sekarang malah marak. Yang tambah menyedihkan lagi adalah bahwa pada saat ini anak bangsa seperti diadudomba. Umat Islam diposisikan sebagai pesakitan dengan membiarkan pihak-pihak tertentu menghina agama Islam dan para ulamanya serta ajarannya pun ikut perlahan tapi pasti disingkirkan. 

Demokrasi yang kita anut sudah liberal dan transaksional.  Sulit membayangkan akan lahir pemimpin yang amanah dan mengabdi pada rakyat dari demokrasi seperti ini. Lembaga yang kita harapkan menjadi wakil rakyat tidak lagi mendengar suara rakyat. Kasus UU Minerba, disahkannya Perppu no 1 tahun 2020 menjadi UU no 2 tahun 2020 dan sejumlah UU lainnya termasuk yang terakhir tentang masih terdaftarnya RUU HIP di Prolegnas adalah contoh bagaimana lembaga perwakilan rakyat tidak lagi mendengar (apalagi memperjuangkan kepentingan) aspirasi rakyat.  Khusus RUU HIP, ini justeru terang-terangan ingin mengubah substansi Pancasila dan ini sama artinya akan membelokkan arah tujuan Indonesia merdeka.

Persoalan-persoalan ini sudah fundamental dalam bernegara, yang memerlukan tindakan menyelamatkan, mengembalikan bangsa ini kepada niat dan cita-cita para pendiri bangsa ini  ketika memperjuangankan kemeerdekaan.

Pertanyaan :
3. Sebagaimana dikemukakan Pak Din Syamsuddin, KAMI adalah gerakan moral. Hanya itukah, atau ada agenda politik ke depan ?

Jawab : Ya, benar. Gerakan ini gerakan moral. Karena yang bergabung di KAMI adalah para intlektual, akademisi, tokoh-tokoh pergerakan dan praktisi yang memiliki moral.  Mereka tidak punya kekuasaan, tidak punya uang apalagi bedil; dan KAMI pun bukan pula partai politik.

Tetapi ini gerakan sangat penting, sebab memang yang diperlukan sekarang ini adalah perbaikan moral. Moral adalah fumdamen penting dalam membangun negara. Saat ini, moral para anak bangsa terutama para pengelola negara sudah jatuh. Rasa malu untuk melakukan kesalahan, keculasan, kecurangan, melanggar norma sudah hampir hilang. Malah tidak sedikit yang berani melakukan kesalahan dengan terang-terangan dan bangga karena merasa hukum tidak akan bisa menyentuhnya. Sifat kejujuran sudah menjadi sesuatu yang asing. Padahal, negeri ini dibangun atas dasar pengorbanan dan rasa saling percaya sesama komponen bangsa. Bagaimana kita menilai, misalanya, terhadap orang yang ingin mengganti subsatansi Pancasila ? Pancasila yang kita akui dan yang berlaku saat ini, adalah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Kemuadian dengan kekuasaaan yang dimiliki ingin mengganti dengan sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya. Adakah lagi rasa malu dan kejujuran dalam hal ini ? Begitu juga sifat amanah para pengelola negara, sudah jauh dari harapan rakyat. Rakyat seperti hidup tanpa pengayoman. Malah sebagai objek pengelola negara belaka.

Jadi, gerakan ini memang gerakan moral. Apa bentuk gerakannya, tentu tergantung dari perkembangan situasi yang ada. Bahwa gerakan ini nantinya berdampak politik, itu tidak bisa dielakkan.

4 komentar:

  1. Apapun yang digagas oleh para tokoh untuk kepentingan Bangsa dan Negara patut kita apresiasi.Kita yakin dan percaya para tokoh penggagas dan tokoh-tokoh yg ada didalamnya memiliki kredibilitas dan integritas sebagai anak bangsa yg perduli kepada nasib bangsanya,dan ini juga wujud dari rasa keperdulian sebagai anak bangsa, dan kita harus berprasangka baik utk kegiatan ini utamanya dgn melihat track record para tokohnya.

    BalasHapus
  2. Semoga gerakan moral ini dapat menyentuh nurani penguasa Negara Tercinta ini, aamiin!!!

    BalasHapus
  3. Untuk rezim yang minim moral, gerakan moral saja tidak cukup ...

    BalasHapus
  4. وتواصو بالحق وتواصوبالصبر. Amar Makruf nahi Munkar tetap harus ada untuk menuju yang lebih baik dan mengingatkan orang lalai itu suatu keniscayaan bukan dilarang

    BalasHapus