Kaderisasi Politik Jadi Sorotan, Ini Kata KAMMI Medan - Harian Amanah Medan

Breaking

Selasa, 29 Desember 2020

Kaderisasi Politik Jadi Sorotan, Ini Kata KAMMI Medan


Medan- Kaderisasi organisasi khususnya politik menjadi sorotan akhir-akhir ini. Hal itu terkait fenomena terjadi belakangan bahwa tidak mampu atau tidak terpilihnya kader-kader menduduki posisi di publik. 


Terakhir, Reshuffle menteri oleh Presiden Jokowi. Di kubu banteng (PDIP) masih menjadi perbincangan bagaimana Presiden tidak memilih menteri baru dari mereka yang berangkat dari jenjang murni kader partai. Risma maupun Wahyu Trenggono sendiri dinilai belum masuk kategori kader murni Banteng. Dua orang ini dinilai sosok birokrat karier dan pengusaha sukses. 


Bahkan jika melihat secara umum, malah sebuah organisasi pengusaha, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang berhasil menempatkan kadernya pada sejumlah jabatan publik. 


Belum lagi jika ditarik ke daerah-daerah, Pilkada Medan 2020 bagaimana Pengusaha Muda sukses, Bobby Nasution yang 'baru berpolitik' mampu mengalahkan 'kader' GMNI, kader tulen PDIP dan kader PKS yang diwakil sosok Akhyar-Salman. 


Fakta ini mengesankan pendekatan melalui politik-ideologi kini ditinggalkan menuju serba praktik pragmatis transaksional.


Di sisi lain, isyarat jelas bahwa organisasi politik yang memiliki kaderisasi kini tak lagi jadi rumah yang kondusif untuk mencetak para pemimpin yang siap untuk menduduki posisi publik atau politik di pemerintahan. Dengan kata lain, muncul pertanyaan kemudian apakah ada yang salah dengan kaderisasi organisasi hari ini?


Hal ini turut dikomentari oleh Ketua Departemen Kaderisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Medan, Hasan Basri. 


Hasan Basri menilai kondisi dan fakta yang terlihat tersebut sebenarnya menjadi tantangan untuk kaderisasi agar menempatkan dan membekali kader-kadernya. 


"Ini tantangan untuk Kaderisasi agar menempatkan dan membekali kader kadernya atau pola kaderisasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman atau trend hari ini," ujarnya pada wartawan, Rabu di Medan (30/12/2020). 

 

Hasan menjelaskan saat ini sosok pemimpin tidak cukup hanya fokus pada satu kompetensi dan profesionalitas saja. 


"Memng sudah bergeser kalau kita melihat kebelakang tokoh bangsa kita yang ideolog. Hari ini masyarakat atau sosok pemimpin tak cukup pada satu kompetensi saja tapi harus punya kemampuan lain, multi taskinglah," jelasnya. 


Sosok alumni UIN Sumut itu menilai peran kaderisasi kini harus bisa memberikan knowledge dan kompetensi yang maksimal. 


"Paling enggak dalam 3 bidang, pertama kefokusan sesuai dengan latar belakang seseorang baik itu Hukum, Ekonom, politisi, sosiolog dan sebagainya. Kedua, dia juga harus memiliki kemampuan untuk bersaing dengan start up atau perusahaan (pengusaha) sendiri. Ketiga, Hobi yang bisa menjadi tambahan untuk mengenalkan pribadi kita," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar