PEMIMPIN BARU (BUKAN) IDOLA BARU? - Harian Amanah Medan

Breaking

Selasa, 29 Desember 2020

PEMIMPIN BARU (BUKAN) IDOLA BARU?


Oleh : Arifulhaq A , S.Pd., M.Hum. & Amarina Nainggolan, S.Pd.


Di tengah pandemic corona yang sedang merebak, antusiasme menjadi pemimpin tak menyurutkan nyali siapapun di negeri ini. Pemimpin adalah satu kata yang lagi booming karena kemilau otoritas dan embel-embel yang disandangnya membuat orang tergoda dan berlomba-lomba menggapainya baik dengan usaha sendiri maupun bersama. 


Di negeri yang kita cintai ini, proses mendapatkan jabatan Pemimpin tidaklah mudah. Dukungan partai, masyarakat, dana, jaringan, figure kharismatik dan sponsor yang solid haruslah mengakar kuat. Bila tidak, maka ketidakpuasan karena gagal kadang memicu petaka antar masyarakat pendukung calon. 


Pada saat Pilkada, dinamisasi partai politik dengan segala misinya mewakili keterkaitan perubahan sosial langsung kepada masyarakat yang diharapkan berdampak pada perbaikan dan pencapain tahapan kehidupan rakyat yang lebih sejahtera. Berdasarkan fakta yang ada menunjukkan bahwa banyak janji yang ditaburkan ternyata tidak dipenuhi Apakah hal tersebut bisa terwujudkan atau tidak di kemudian hari bukanlah sebuah beban. 


Melahirkan seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Untuk mendapatkan kemenangan, calon pemimpin yang bertarung harus didukung oleh berbagai pihak (Tim Sukses) dari sebuah partai politik. Dalam pilkada yang telah berlangsung, masyarakat bisa menyaksikan kepiawaian mesin pendukung sang calon apakah berjalan lancar, tersendat, atau berjalan di tempat. 


Konstituen yang menjadi target perolehan suara kemenangan berada pada posisi menunggu ‘Siapa Yang Mendekat’ maka itulah yang berterima di hati. Akibatnya, secara kasuistis menjadi bencana pada calon yang diusung oleh karena ada saja yang tidak merasa puas dengan cara-cara yang ditempuh yang pada akirnya saling melaporkan ke Bawaslu atau Panwaslu. Nah, bila hal ini terus berlangsung, masihkan Pemilu (Pilkada) dianggap sebagai sebuah Pesta Demokrasi?  


Pemimpin dari hasil pemilu yang berlangsung tertib dan baik tentu menjadi dambaan khalayak dan sebaliknya bila pemimpin dari hasil pemilu yang curang tentu hanya akan meninggalkan bom waktu bagi publik. Masyarakat akan mengidolakan sang pemimpin bukan karena kekayaan tetapi karena keercayaan yang ditawarkan ternyata dapat dibuktikan. 


Pada masa sekarang ini untuk menjadi pemimpin yang baik dan ideal dibutuhkan energi untuk menginspirasi, supaya orang lain mengikuti apa yang diinginkannya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika pemimpin itu memiliki penampilan yang menarik, dan mampu menjalin keterikatan antara pemimpin dan yang dipimpin. 


Beberapa pakar manajemen diantaranya Henry Mintzberg memaparkan bahwa dalam menjalankan kepemimpinan sebuah lembaga / instansi, peran pemimpin adalah sebagai Penghubung (Liaison), Penyebar Informasi (Disseminator), dan Juru Bicara (Spokesperson). Bernard Montgomery, seorang Jenderal Inggris juga mengatakan bahwa peran pemimpin adalah membangkitkan sebuah karakater untuk sebuah keyakinan dan keyakinan inilah yang menjadikan ia dan pasukannya sukses dalam berbagai event perang. 


Michael Hart, seorang penulis fenomenal juga menulis bahwa salah seorang Tokoh yang paling berpengaruh di dunia dan berada di urutan teratas adalah Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wasallam. Menurutnya keberhasilan Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaih Wasallam menjadi pemimpin adalah dikarenakan tiga hal, yakni pertama visi dan misi Nabi Muhammad, "memanusiakan manusia",Yang kedua sifat nabi ; Shiddiq (berkata benar), Amanah (Dipercaya), Tabligh (Menyampaikan) dan Fathanah (Cerdas), dan yang ketiga adalah dari tugas Nabi, yakni Amar Ma'ruf Nahi Munkar ; mengajak orang-orang untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan larangan. Cara beliau dalam memimpin pun sangat sederhana dan mudah ditiru karena beliau langsung mempraktekkannya.


 Sebagai seorang pemimpin berarti memiliki tanggung jawab lebih dalam hidup tidak hanya dalam lingkungan keluarga, lingkungan bahkan bangsa. Seorang pemimpin adalah individu dengan jiwa yang terlatih dan mampu melatih individu-individu lain untuk mewujudkan visi yang bersifat seragam. Seorang pemimpin diharuskan mampu melibatkan diri dalam unsur keberagaman sifat anggota yang menjadi tanggung jawabnya. 


Menjadi pemimpin tidaklah cukup berkutat dengan rutinitas tugas yang diemban tetapi pemimpin haruslah mampu mewujudkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang ideal bagi semua kalangan, yakni pemimpin yang mempunyai integritas tinggi, mengutamakan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi. 


Kepemimpinan yang ideal saat ini sangat dibutuhkan karena model ini merupakan tindakan pengaruh yang terpisah yang tidak tergantung pada peran, karakter, atau sifat kepribadian siapapun apalagi sampai didikte oleh individu atau kelompok.


Pemimpin ideal adalah pemimpin yang cerdas. Kecerdasan merupakan point utama yang menentukan seberapa baik langkah diambil oleh seorang pemimpin jika dihadapkan oleh suatu masalah kelompok. Pemimpin ideal adalah pemimpin yang cerdas dalam membawa diri yang didukung dengan keunggulan berfikir dan peka terhadap hal hal sekitar. 


Dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin yang ideal akan mampu berfikir luwes, dekat dengan rakyat dan memiliki ide-ide segar menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyatnya.


Berdasarkan hasil riset yang dilakukan, maka disebutkan bahwa salah satu indikator keberhasilan pemimpin di pentas politik adalah pemimpin yang memiliki gaya ‘Berbaur Dengan Rakyat’ yang dalam bahasa politiknya dikenal dengan “The Common Touch”. Sebagai contoh ; Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama pernah berujar bahwa “Aku ingin bercampur dengan rakyat. Itulah Yang menjadi kebiasaanku. Badanku seperti lemas, napasku akan berhenti apabila aku tidak bisa bersatu dengan rakyat jelata yang telah melahirkanku”. 


Lalu disusul dengan Presiden ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono juga memiliki cara unik berinteraksi langsung dengan rakyat umum. Di setiap kesempatan bertemu dengan rakyat SBY selalu mendahului ‘sapaan’ dan tersenyum langsung kepada orang di depannya. Tatapan mata dan remasan tangan beliau langsung ke ulu hati orang yang dihadapi beliau. 


Lalu, pemimpin yang manakah yang diinginkan oleh khalayak ? Apakah pemimpin yang pandai membalas budi Tim Suksesnya ketika dalam Pemilu atau pemimpin yang sukses mempergunakan anggaran daerah sesuai dengan arahan juklak dan juknis ? Fakta berbicara bahwa pemimpin yang diinginkan rakyat adalah pemimpin yang mampu membawa misi kelompoknya ke arah yang baik dan tetap teguh merangkul semua anggota kelompok serta dekat dengan rakyat.


 Keberhasilan para pemimpin menduduki kursi nomor satu di suatu daerah akan dibuktikan setelah pemilu usai. Rakyat akan menagih janji-janji manis yang ditebar. Apakah lobi kedekatan dengan rakyat, kepedulian dengan rakyat, kebersamaan dengan rakyat yang ditunjukkan selama kampanye benar-benar dirasakan oleh rakyat jelata, maka waktu jualah yang akan membuktikan. Semoga pemimpin yang terpilih tidak menjadi pemimpin semu, terpilih hanya karena pencitraan.


*Penulis adalah Dosen FKIP UMSU Medan / SMK Negeri 1 Pancur Batu / SMP Dharma Pancasila Medan, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Deli Serdang dan Aktivis Sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar